MentalBreakdown

Something, Somewhere Went Terribly Wrong

Apa Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Konferensi Perubahan Iklim Kopenhagen

Dimulai Senin ini banyak mata tertuju pada Kopenhagen, Denmark. Dimana para pemimpin dunia dan pakar iklim akan mengadakan pertemuan sepuluh-hari dalam UN Climate Change Conference. Tujuan mereka : membuat satu rancangan baru mencegah terjadinya Global Warming,

Dengan lebih dari 85 pemimpin negara yang hadir, konferensi Iklim Kopenhagen dapat menjadi ajang pertemuan terpenting sedunia sejak akhir Perang Dunia II, berdasarkan data dari International Institute For Environment and Development, sebuah riset independen yang berpusat di London.

Dengan kata lain, sebuah pertemuan besar biasanya berpotensial besar akan memusingkan – lihatlah apa yang disebut COP15 ini yang diharapkan akan menghasilkan sebuah keputusan untuk dikerjakan – dan mengapa para pakar mengatakan bahwa hanya sedikit waktu yang masih tersisa.

Mengapa kita Butuh Konferensi Iklim?

Banyak ilmuwan setuju kalau iklim bumi sekarang sedang tidak stabil. Dalam seabad ini, suhu rata-rata bumi meningkat sekitar 1,26 derajat Fahrenheit atau setara dengan 0,7 derajat Celsius.

Sebuah panel diskusi PBB tentang Perubahan Iklim mengatakan bahwa ada sekitar 90% penyebabnya terutama pada peningkatan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, seperti deforestasi dan pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi dan menjalankan mesin mobil kita.

Sedikit saja terjadi penyimpangan temperatur akan berujung pada banjir, aliran udara panas, dan badai diseluruh dunia – Berdasarkan pada UN Framewok Convention on Climate Change (UNFCC), sebuah badan PBB yang bertugas mengatur dan mengorganisasikan masalah-masalah tentang Iklim.

“sedikit sekali kesempatan yang kita miliki untuk menghambat perubahan Iklim”,  Pakar UNFCC berkata mengenai kondisi ekstrim iklim dan cuaca sekarang,

Konferensi Iklim Kopenhagen inilah yang akan menjadi sebuah “ Momen in History in which humanity has the opportunity to rise to the challenge” – sebuah semboyan harapan tentang masa depan umat manusia.

Apa itu COP15?

COP15 adalah kependekan dari 15th Conference of Parties. COP15 juga merupakan pertemuan lanjutan ke 15 dari Protokol Kyoto.

Protokol Kyoto adalah perjanjian kerjasama pengurangan emisi yang diadakan tahun 1997 di Kyoto. Tujuannya mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan industri-industri sekitar 5% dari tingkat emisi tahun 1990 selama periode tiap 5 tahun.

Perjanjian kerjasama iklim Kyoto, yang diperbincangkan pada tahun 2005, telah disetujui 185 negara, tidak termasuk Amerika Serikat didalamnya.

Karena Protokol Kyoto tidak berlaku lagi setelah tahun 2012. Sebuah “perjanjian kerjasama baru” harus dibentuk tahun ini untuk menyediakan aturan dan petunjuk bagi pemerintah diluar Protokol Kyoto.

Apa Tujuan Utama Konferensi Iklim Kopenhagen?

Tidak lain bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang tidak akan mengakibatkan terjadinya “bahaya” perubahan iklim.

Meskipun masih saja ada debat tentang apa yang disebut “bahaya”, mengenai konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sebelum revolusi industri sekitar 278 ppm. Yang sekarang telah menjadi 381 ppm.

Ditahun 2050, UNFCC berharap dapat memotong gas rumah kaca di atmosfer menjadi setengahnya.

Konferensi Iklim Kopenhagen memiliki 4 tujuan yang ingin dicapai, disadur dari UNFCC :

  1. memperjelas sebanyak apa negara maju seperti AS, Australia dan jepang akan membatasi emisi gas rumah kaca mereka.
  2. Menentukan bagaimana, dan sampai sejauh apa, negara berkembang, seperti China, India, dan Brazil akan membatasi emisinya tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi masing-masing
  3. Mencari cara lain untuk “menstabilkan dan memprediksi keuangan’ dari negara maju yang dapat membantu negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka dan untuk berdaptasi pada perubahan iklim.
  4. Mengidentifikasi cara untuk memastikan negara berkembang akan diperlakukan seimbang sebagai partner dalam membuat keputusan, terutama saat berkaitan dengan keuangan dan teknologi.

Keputusan Yang Mungkin Akan Dihasilkan ?

Berdasarkan International Institute for Environment and Development akan ada beberapa hasil yang mungkin akan dihasilkan pada Konferensi Iklim Kopenhagen kali ini, yaitu:

  1. Tidak ada kesepakatan : pertemuan akan dilanjutkan tahun 2010.
  2. Kesepakatan sendiri –sendiri : konferensi iklim akan menghasilkan suatu keputusan tidak mengikat yang mengijinkan pemerintah menentukan tujuannya sendiri dan cara untuk mencapainya. Dalam hal ini perngurangan emisi akan terjaid lambat sekali bahkan mungkin tidak akan ada perubahan apa-apa.
  3. Keputusan yang mengikat : sebuah kesepakatan resmi. Yang disetujui Desember ini yang akan menggantikan Protokol Kyoto pada 2012.

Bagaimana Cara Efektif Memotong Tingkat Gas Rumah Kaca?

Hampir 80% emisi gas rumah kaca berasal dari aktivitas industri termasuk pembangkit listrik, pengolahan limbah, transportasi dan operasional bangunan, sementara 20% sisanya dari deforestasi – berdasarkan data dari UNFCC.

Tapi banyak pakar percaya bahwa ada satu cara yang lebih murah dan mudah untuk memotong emisi gas rumah kaca, yaitu melalui pengurangan deforestasi dan degradasi fungsi hutan – sebuah strategi yang disebut REDD.

Menjaga hutan bisa menjadi solusi tercepat dibandingkan merubah hukum untuk menstabilkan emisi hasil industri. Itulah mengapa REDD akan menjadi fokus utama pada konferensi saat ini.

Protokol Kyoto tidak mencantumkan deforestasi, hanya fokus pada pembatasan emisi  Industri dan transportasi.

Dibawah REDD, negara-negara berkembang yang mengurangi tingkat deforestasi akan mendapatkan penghargaan. Penghargaan tadi dapat dijual dalam International Carbon Markets untuk negara maju yang mencoba mencapai target pengurangan.

Banyak proyek REDD telah berhasil dijalankan.

Contohnya, sebuah konservasi alam yang berpangkal di Bolivia, Brazil, dan Indonesia.

Program REDD mereka di daerah Berau, Indonesia, telah mencegah 10 juta ton emisi karbon dioksida dalam 5 tahun kebelakang disamping melindungi Orang Utan dan meningkatkan kesempatan ekonomi untuk komunitas lokal, berdasarkan data pada Oktober 2009. Indonesia telah mengumumkan bahwa hal tersebut akan digunakan sebagai sebuah contoh proyek konservasi REDD di semua negara.

Di Madagaskar, lembaga Conservation International an The Wildlife Conservation Society telah mencapai sebuah proyek kelanjutan REDD yang dikenal sebagai Makira Forest Initiative. Sebuah usaha non-profit untuk melatih petani tentang bagaimana cara menghasilkan banyak hasil pangan tanpa memotong banyak pepohonan untuk dijadikan ladang. Kelompok atau individu, termasuk juga band rock Pearl Jam, telah menginvestasikan uangnya pada hutan madagaskar – sebuah daerah yang direncanakan akan menjadi penyerap karbon dioksida di atmosfer.

Ada mekanisme pasar lain untuk mencegah terjadinya perubahan Iklim, seperti teknik cap-and-trade

Dengan metode ini, negara akan menentukan batas emisi gas rumah kaca mereka, sebuah angka yang secara terus menerus turun dari waktu ke waktu untuk mengurangi tingkat polusi. Bagi perusahaan yang mampu mencapai angka tersebut, mereka dapat mendapatkan keuntungan dipasar dengan memperkenalkan teknologi mereka sebagai sebuah inovasi teknologi. Secara ekonomis, itu untuk keuntungan mereka sendiri.

Perdagangan dan kerjasama kelihatannya memiliki efek, negara berkembang yang telah menandatangani protokol kyoto telah mengurangi emisi gas rumah kaca mereka sekitar 4% dari 1999 hingga 2007. (meskipun sebenarnya kebanyakan pengurangan ini terjadi karena negara-negara dari eropa tengah dan timur mengalami penurunan tingkat ekonomi pada periode tersebut)

Diatas semua itu, pasar karbon memiliki “potensi besar” dalam memotong emisi gas rumah kaca, tapi sebelumnya masing-masing negara harus mengembangkan sebuah kebijakan yang mengizinkan pasar tetap berlanjut lepas tahun 2012, disaat Protokol Kyoto berakhir.

Bagaimana Negara Maju dan Berkembang Bisa Bersatu?

Banyak negara berkembang khawatir mereka akan dipaksa menandatangani kesepakatan di Konferensi Iklim Kopenhagen yang akan berakibat pada perkembangan ekonomi mereka dan usaha pemberantasan kemiskinan.

Pemimpin dari beberapa negara berkembang meminta negara maju untuk menyetujui “kewajiban historis” – sebagaimana yang tercantum pada hukum dan aturan masing-masing  mengenai pemberantasan kemiskinan dan memajukan peradaban bangsa – mereka untuk perubahan iklim dan gas rumah kaca yang dihasilkan.

Contohnya, bila ingin kopenhagen bisa berjalan, ada sebuah tekanan yang menyatakan bahwa negara maju harus mengurangi emisi mereka jauh lebih besar dibandingkan negara berkembang.

Hasilnya, negara maju khawatir mereka akan kehilangan kemampuan kompetitif-nya bila harus mengurangi emisi sementara negara berkembang tidak harus melakukannya.

Dalam konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali Desember 2007, telah ditentukan bahwa negara berkembang dapat membatasi peningkatan emisi mereka hanya dengan dukungan finansial dan teknikal dari negara maju.

Negara berkembang merupakan objek paling terpengaruh dari dampak perubahan iklim. Contohnya, banyak organisme komunitas pantai yang mati dan meningkatnya level inundasi diakibatkan meningkatnya muka air laut. Daerah ini akan butuh perhatian lebih untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Kesimpulannya, negara berkembang adalah kunci untuk mencapai kesepakatan pada konferensi kopenhagen kali ini. Hal tersebut karena seandainya saja semua negara maju telah memotong emisi mereka, tetap akanterjadi peningkatan emisi yang dihasilkan oleh negara berkembang.

Bagaimana Peran Amerika Serikat?

Banyaka pemimpin dunia yang berharap AS – penghasil karbon dioksida tebesar kedua setelah Australia – akan datang ke Kopenhagen.

Presiden AS, Barrack Obama, berkata di China pada November kemarin bahwa pertemuan Kopenhagen sebagi sebuah “ langkah awal” pada sebuah kesepakatan akhir mengenai perubahan iklim.

ia juga mengatakan, bahwa kesepakatan kopenhagen harusnya berujung pada tindakan yang nyata. Tujuan pertemuan itu menurut Obama, “ bukanlah sebuah acuan parsial atau deklarasi politik, akan tetapi sebuah acuan yang melingkupi semua isu dalam negosiasi dan yang memiliki efek sesegera mungkin,”

Berapa Banyak Dana Yang Dibutuhkan?

Bank Dunia memperkirakan bahwa negara berkembang butuh sekitar 400 miliar dolar pertahun untuk  menghambat perubahan iklim dan sekitar 75 juta hingga miliaran dolar untuk adaptasi – seperti relokasi pengungsi, termasuk warga yang daerahnya kebanjiran atau menanam pohon mangrove yang dapat membantu mengatasi kerusakan akibat badai.

Pakar juga berharap bahwa “ upaya Hijau” menyebar ke seluruh negara untuk menanam sebuah biji tanaman yang akan berfungsi menurunkan kadar karbon dioksida di masa depan.

Akhir kesimpulan, sebesar apapun biaya dan upaya yang harus kita keluarkan untuk mencegah, tidak akan sebanding dengan biaya yang harus kita keluarkan seandainya perubahan iklim benar-benar terjadi. Sebagaimana kata pepatah “Lebih baik mencegah daripada mengobati”.

Single Post Navigation

One thought on “Apa Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Konferensi Perubahan Iklim Kopenhagen

  1. Perlu sangat penting dipublikasikan apa akibat-akibat dari pencemaran asap (global warning) kepada seluruh penduduk di duina ini, karena akibat ulah kita semua kita sendiri yang menanggung resiko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: