MentalBreakdown

Something, Somewhere Went Terribly Wrong

Atheisme dan Penemuan Ilmiah Terbaru

Atheisme  telah menyebar luas didalam kehidupan kita sekarang. Banyak orang menyangka bahwa mereka tidak butuh Tuhan untuk menjelaskan asal muasal terbentuknya planet dan munculnya kehidupan itu sendiri.

Mitos ataupun kepercayaan keagamaan hilang dibawah gemerlapnya penemuan-penemuan ilmiah dan kemajuan teknologi kita sekarang. Atheisme kelihatannya sikap yang paling jelas, dengan apa yang kita alami sekarang.

……. Akan tetapi, penemuan baru tersebut sebenarnya didasarkan pada pengertian yang akurat tentang arti dari berpikir dan berkhayal, malah membuka banyak kebenaran yang bertentangan dengan pandangan atheistik……

Pikiran jernih yang menghasilkan buah pikiran dan khayalan memiliki arti penting yang tidak diragukan lagi keberadaan dan kebijaksanaannya serta tidak dapat dibatasi kecuali kita tunduk bahwa hal tersebut datang dari otak yang berkapasitas superior.

Buah pikiran ini tidak mungkin datang dari manusia biasa karena pada dasarnya otak manusia adalah otak primata. Manusia mewarisi sifat dan nurani primitif pada sebagian besar otaknya. Bahkan hanya sebagian kecil dari otak manusia yang berevolusi lewat kesadarannya, dan sekarang masih dalam tahap perkembangan serta hanya pada satu bagian saja.

Buah pikiran dan khayalan tidak akan berhubungan bila tidak ada artinya. Keduanya sama-sama mengandung petunjuk khusus dan informasi penting tentang keberadaan fisik, kenyataan diluar realita kita dan masa depan. (baca : Déjà vu)

Arti dan informasi ini secara tidak sadar kita akui disaat kita mengikuti petunjuk-petunjuk dari-Nya. Kita bisa menemukan solusi yang pada awalnya tidak kita dibayangkan untuk masalah – masalah yang kita anggap tidak mungkin untuk dipecahkan.

Mental atheistik pada dasarnya terbentuk dari sisi primitif kesadaran kita, yang selalu bersinggungan dengan realitas manusia. Mental atheistik telah disimpangkan oleh keberadaan arti dari bermacam-macam agama, yang telah mengubah wajah dunia sebagai tempat dimana kejahatan dan immoralitas merajalela; yang disembunyikan dibawah bayang-bayang kemunafikan dan kesia-siaan.

Kita mau tidak mau butuh untuk mengakui keberadaan Sang Pencipta. Karena sudah banyak bukti ilmiah yang mengindikasikan bahwa atheisme hanya didasarkan pada ilusi.

Sel pertama yang hidup tidak akan mungkin muncul tiba-tiba disaat planet kita masih muda. Bumi tidaklah terlalu tua untuk mengizinkan molekul-molekul pertama bermunculan sebelum terbentuknya komposisi formula yang benar dan akan membentuk sel hidup pertama.

Seandainya kehidupan muncul di bumi hanya oleh kebetulan, dibutuhkan triliunan tahun lagi untuk membentuk kombinasi yang pas dan sempurna dari reaksi kimia yang akhirnya membentuk sel hidup pertama kali.

Disamping itu, ditemukan adanya penemuan dari ahli biologis dan peneliti lain yang menyatakan ada sifat warisan dalam tingkah laku hewan yang berkembang dari mekanisme pembelajaran awal. Inilah mengapa sekarang tiap-tiap hewan tahu jelas bagaimana bertingkah laku dalam tiap-tiap situasi. Seakan-akan sudah ahli dari awalnya. Tingkah laku yang sudah ada pada awalnya, instinktual; bukanlah tingkah laku hasil pembelajaran.
Tingkah laku yang seakan-akan telah terprogram ini, mempersiapkan semua hewan yang ada di bumi untuk mempertahankan diri mereka dari planet yang tidak bersahabat seperti bumi dimana mereka memiliki banyak musuh alami. Hal-hal seperti inilah, bahkan untuk hewan bersel satu sekalipun butuh waktu berjuta-tahun dalam mekanisme pembelajarannya. Kesempurnaan Peng-organisasian pembelajaran mereka hanya dapat dilakukan bilamana ada tujuan tertentu dari Sang Pencipta dan dengan hasil kalkulasi perhitungan yang super canggih yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

Masih banyak lagi bukti kebenaran ilmiah yang jelas-jelas menunjukkan kedangkalan dari kesimpulan pandangan atheistik.

Atheis menyatakan bahwa keberadaan Tuhan hanyalah satu ilusi belaka. Akan tetapi, ilusi yang paling nyata adalah membayangkan bahwa struktur alam yang sangat kompleks ini dibentuk hanya oleh kebetulan – yang berlangsung triliunan Tahun.

Kita hidup didunia dimana uang dianggap Tuhan oleh kebanyakan orang. Dunia dimana perusahaan-perusahaan besar memutuskan nasib dunia karena naik turunnya mata uang terletak di genggaman tangannya.

Materialistik dan Atheistik sangat melindungi paham dan keingintahuannya. Inilah mengapa mereka mencoba segala cara untuk menjaga agar tidak terlalu banyak memberikan perhatian pada penemuan-penemuan ilmiah yang bisa membuat topeng mereka luntur, dan akhirnya merubah bagaimana cara mereka menjalani kehidupan.

About these ads

Single Post Navigation

10 thoughts on “Atheisme dan Penemuan Ilmiah Terbaru

  1. Tanriani on said:

    Struktur alam dinyatakan banyak manusia sebagai ciptaan Tuhan semata” demi menutupi ketidaktahuan ilmu pengetahuan dan kemampuaan manusia untuk menyatakan darimana bumi dan alam semesta tercipta.
    Orang seperti itu umumnya adalah orang yang kurang suka berpikir terlalu rumit lantas memasrahkan ketidaktahuannya dengan embel keilahian Tuhan semata.
    Demi menjaga keseimbangan dari komentar saya (tanpa memihak, namun coba bangkitkan rasionalitas dan logika kita. Pikirkan kembali dua teori ini)
    A. Pembuktian Sains Tentang Keberadaan Tuhan
    Pembuktian matematis tentang keberadaan tuhan
    August 21, 2008 by Aria Turns

    Kurt Godel (1906-1978 ) pakar matematika kelahiran Austria pernah menulis

    Axiom 1. (Dichotomy) A property is positive if and only if its negation is negative.

    Axiom 2. (Closure) A property is positive if it necessarily contains a positive property.
    Theorem 1. A positive property is logically consistent (i.e., possibly it has some instance).

    Definition. Something is Godlike if and only if it possesses all positive properties.

    Axiom 3. Being Godlike is a positive property.

    Axiom 4. Being a positive property is (logical, hence) necessary.
    Definition. A property P is the essence of x if and only if x has P and P is necessarily minimal.

    Theorem 2. If x is Godlike, then being Godlike is the essence of x.

    Definition. NE(x): x necessarily exists if it has an essential property.
    Axiom 5. Being NE is Godlike.
    Theorem 3. Necessarily there is some x such that x is Godlike

    Nb: Saya mencoba mencari sumber terbaik mengenai keberadaan Tuhan secara theoremA. Benar atau tidak adanya. Apakah hanya menjadi suatu keyakinan dari umat manusia???

    Saya terakan juga mengenai
    B.Pembuktian Sains mengenai tidak adanya Tuhan
    Tantangan untuk Membuktikan Eksistensi Tuhan (2)
    Ditulis oleh ateispedia06/04/2010Berikut adalah syarat kedua untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Eksistensi makhluk supranatural (Tuhan) harus dapat ditunjukkan melalui bukti dan argumen, tak boleh sekedar mempercayai bahwa dia ada.

    Ada kecenderungan dari penulis teis yang mengatakan bahwa ateis tidak dapat mengerti argumen mereka karena apa yang mereka ungkapkan didasarkan pada kepercayaan.

    Dan agar dapat mengerti, orang harus percaya dulu. Well, yang seperti bukan bukti. Bukti harus terlihat oleh semua orang siapapun itu, tak perlu harus percaya dulu. Seperti bukti eksistensi matahari yang bisa dilihat dan dipahami oleh semua orang.

    Orang tidak harus percaya dulu bahwa matahari eksis baru kemudian ditunjukkan buktinya. Orang yang mulanya tidak percaya matahari akan menjadi percaya setelah ditunjukkan bukti. Seperti itu hakikat bukti, mesti jelas dan meyakinkan.

    Jadi logikanya harus seperti ini: Ada bukti maka orang percaya, bukan malah dibalik, percaya dulu baru kemudian dicari buktinya.

    Pendekatan untuk percaya saja lebih dulu ini didukung oleh seorang filsuf bernama Stephen Toulmin dalam bukunya “Reason in Ethics”:

    “Eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak membutuhkan bukti. Apakah Tuhan eksis harus dijadikan pertanyaan terakhir. Kita harus menerima eksistensi Tuhan terlebih dahulu, maka bukti akan datang belakangan.”

    Implikasi dari pernyataan ini akan absurd. Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti perdebatan berikut, antara orang yang percaya peri dengan yang tidak.

    Percaya peri (PP):”Ketahuilah, ada peri ajaib diam di kepalaku.”

    Skeptis (S):”Aku tidak melihat apa-apa.”

    PP: “Tentu saja, karena dia tak terlihat.”

    S: “Aku juga tidak merasakan apapun.”

    PP: “Itu karena dia tidak terbuat dari materi. Peri ini adalah sesuatu yang gaib.”

    S: “Tapi kenapa aku harus percaya akan klaim mu soal peri itu? Seperti apa peri itu, apa bukti eksistensinya?”

    PP: “Eksistensi peri ini tidak membutuhkan bukti. Apakah peri ini eksis harus dijadikan pertanyaan terakhir. Alih-alih, kita harus percaya dulu adanya peri ini, selanjutnya bukti akan datang belakangan dengan sendirinya.”

    Pendekatan seperti ini jelas irasional. Bukti harus ditunjukkan terlebih dahulu sebelum kita dapat mempercayai sesuatu.

    Tidak masuk akal percaya terlebih dahulu untuk kemudian mencari bukti untuk mendukung kepercayaan itu. Ini dinamakan rasionalisasi, bukan sesuatu yang rasional.

    Tapi anggap saja si skeptis percaya akan adanya peri tersebut tanpa adanya bukti. Pertanyaan selanjutnya, bukti macam apa yang bisa membuktikan peri itu ada?

    S: “Baik, saya percaya soal peri itu meski tanpa adanya bukti, tapi bisakah kamu mendeskripsikan lebih jauh tentang peri ini? Karena aku sama sekali tidak tahu sebenarnya mempercayai apa.”

    PP: “Peri ini dapat menyebabkan turunnya hujan.”

    S: “Lalu..?”

    PP: “Setiap turun hujan, saat itulah peri ini melakukan aksinya. Bukti apalagi yang kau inginkan?”

    Argumen ini tipikal argumen para teis. Teis akan meminta ateis untuk percaya akan ide tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang bertanggung jawab atas keteraturan alam, dll.

    Teis kemudian akan menunjuk eksistensi alam semesta sebagai bukti eksistensi Tuhan.

    Kenapa harus mengasumsikan kalau keteraturan alam ini membutuhkan Tuhan? Dalam konteks ini Tuhan ujug-ujug diasumsikan eksis sebelum bisa dibuktikan. Untuk merasionalisasi kepercayaan itu lantas dicari-cari bukti akan eksistensiNya dengan menunjuk keteraturan alam semesta, dll.

    Dalam kasus ini, ide adanya Tuhan diterima lebih dulu sebelum ada bukti-bukti yang menunjukkan eksistensinya.

    Pengajuan ‘bukti’ macam ini mesti ditolak, Tuhan telah diasumsikan eksis sebelum dibuktikan. Lagipula, jika semisal Tuhan ini ada, apa yang membuat kita yakin bahwa Dia adalah Tuhan Ibrahim, bukan Zeus atau Brahma?

    Kita harus menerima hanya bukti nyata akan adanya makhluk supranatural. Jika ini tidak bisa dibuktikan, maka posisi ateis lah yang lebih kuat

    Jangan Bawa-bawa Nama Tuhan?
    27 Sep 2010
    Berita KotaHukum
    ?

    Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

    KARENA adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta -dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada, tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

    Dalam buku yang terbit pada 9 September di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa “M-Theory”, sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. “Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah la yang memicu terciptanya alam semesta,” tulis Hawking.

    Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

    “Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia,” jelas Hawldng.

    Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. “Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan,” tulis Hawking, pada saat itu.

    Jangan dikaitkan

    Pandangan ilmuwan terkemuka Stephen Hawking yang mengabaikan peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta mulai di-komentari para pemuka agama di Inggris.

    Dalam buku terbarunya berjudul The Grand Design, Hawking menulis bahwa alam semesta tercipta dengan sendirinya karena adanya hukum gravitasi.

    Pendapat tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Gereja Inggris, Uskup Agung Canterbury Dr Rowan Williams. Menurutnya, masalah penciptaan tidak bisa hanya dijelaskan dari ilmu fisika semata. Sains dan agama bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

    “Kepercayaan kepada Tuhan bukan semata soal penjelasan bagaimana hubungan satu sama lain di alam semesta. Ini adalah soal keyakinan bahwa ada kekuatan hebat sehingga segala sesuatu tergantung keberadaannya,” ujar Rowan Williams seperti dilansir CNN, awal September lalu.

    Komentar Williams didukung sejumlah pemuka agama di Inggris lainnya, antara lain dari Kepala Pendeta Jonathan Sacks. Dikatakannya, “Sains adalah penjelasan. Agama adalah interpretasi. Injil tentu tidak tertarik menjelaskan bagaimana alam semes-ta bisa tercipta.”

    Ibrahim Mogra, imam dan kepala komite di Dewan Muslim Inggris, mengatakan, “Saat kita melihat alam semesta dan semua yang diciptakan di dalamnya, pasti ada pikiran ada yang menciptakannya. Itulah Yang Maha Kuasa.*

    Salah mengartikan

    Pendapat Stephen Hawking yang mengabaikan peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta tak sepenuhnya ditentang. Koleganya di Universitas Cambridge menduga Hawking mungkin salah mengartikan Tuhan sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci.

    “Istilah Tuhan yang coba diungkap Stephen Hawking bukanlah Tuhan pencipta seperti yang dipercaya! Ibrahim, yang merupakan penjelasan terbaik untuk menjelaskan mengapa sesuatu ada,” ujar Denis Alexander, Direktur The Faraday Institute for Science and Religion.

    Menurutnya, istilah Tuhan yang dikatakan Hawking adalah perwujudan yang mengisi celah-celah dalam ibnu sains yang belum terungkap. Padahal, pandangan terhadap sains dan keyakinan agama berbeda. Ia berpendapat, sains menjelaskan sesuatu dengan narasi yang hebat tentang terjadinya sesuatu, sementara teologi merupakan makna dari narasi tersebut.

    Fraser Watts, seorang pendeta Anglican dan juga pakar sejarah sains dari Cambridge, mengatakan, keberadaan alam semesta bukanlah bukti adanya Tuhan. “Tuhan sebagai Pencipta merupakan penjelasan yang paling masuk akal dan kredibel untuk mencari tahu mengapa alam semesta ada, dan ada pendapat lebih masuk akal kalau Tuhan ada daripada tidak ada. Pandangan semacam ini tidak luluh dengan apa yang dijelaskan Hawking,” katanya. Kompas.com/cnnyvy

    Tambahan (pengirim)
    Coba kita perhatikan atas kasus tersebut. Isaac Newton meyakini pula Tuhan dalam penelitiannya. Yang dinyatakan dalam kasus di bawah ini.
    Jangan Bawa-bawa Nama Tuhan?
    27 Sep 2010
    Berita KotaHukum
    ?

    Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

    KARENA adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta -dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada, tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

    Dalam buku yang terbit pada 9 September di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa “M-Theory”, sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. “Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah la yang memicu terciptanya alam semesta,” tulis Hawking.

    Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

    “Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia,” jelas Hawldng.

    Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. “Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan,” tulis Hawking, pada saat itu.

    Jangan dikaitkan

    Pandangan ilmuwan terkemuka Stephen Hawking yang mengabaikan peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta mulai di-komentari para pemuka agama di Inggris.

    Dalam buku terbarunya berjudul The Grand Design, Hawking menulis bahwa alam semesta tercipta dengan sendirinya karena adanya hukum gravitasi.

    Pendapat tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Gereja Inggris, Uskup Agung Canterbury Dr Rowan Williams. Menurutnya, masalah penciptaan tidak bisa hanya dijelaskan dari ilmu fisika semata. Sains dan agama bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

    “Kepercayaan kepada Tuhan bukan semata soal penjelasan bagaimana hubungan satu sama lain di alam semesta. Ini adalah soal keyakinan bahwa ada kekuatan hebat sehingga segala sesuatu tergantung keberadaannya,” ujar Rowan Williams seperti dilansir CNN, awal September lalu.

    Komentar Williams didukung sejumlah pemuka agama di Inggris lainnya, antara lain dari Kepala Pendeta Jonathan Sacks. Dikatakannya, “Sains adalah penjelasan. Agama adalah interpretasi. Injil tentu tidak tertarik menjelaskan bagaimana alam semes-ta bisa tercipta.”

    Ibrahim Mogra, imam dan kepala komite di Dewan Muslim Inggris, mengatakan, “Saat kita melihat alam semesta dan semua yang diciptakan di dalamnya, pasti ada pikiran ada yang menciptakannya. Itulah Yang Maha Kuasa.*

    Salah mengartikan

    Pendapat Stephen Hawking yang mengabaikan peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta tak sepenuhnya ditentang. Koleganya di Universitas Cambridge menduga Hawking mungkin salah mengartikan Tuhan sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci.

    “Istilah Tuhan yang coba diungkap Stephen Hawking bukanlah Tuhan pencipta seperti yang dipercaya! Ibrahim, yang merupakan penjelasan terbaik untuk menjelaskan mengapa sesuatu ada,” ujar Denis Alexander, Direktur The Faraday Institute for Science and Religion.

    Menurutnya, istilah Tuhan yang dikatakan Hawking adalah perwujudan yang mengisi celah-celah dalam ibnu sains yang belum terungkap. Padahal, pandangan terhadap sains dan keyakinan agama berbeda. Ia berpendapat, sains menjelaskan sesuatu dengan narasi yang hebat tentang terjadinya sesuatu, sementara teologi merupakan makna dari narasi tersebut.

    Fraser Watts, seorang pendeta Anglican dan juga pakar sejarah sains dari Cambridge, mengatakan, keberadaan alam semesta bukanlah bukti adanya Tuhan. “Tuhan sebagai Pencipta merupakan penjelasan yang paling masuk akal dan kredibel untuk mencari tahu mengapa alam semesta ada, dan ada pendapat lebih masuk akal kalau Tuhan ada daripada tidak ada. Pandangan semacam ini tidak luluh dengan apa yang dijelaskan Hawking,” katanya. Kompas.com/cnnyvy

    Ket: Ia selamat dengan mengatasnama kan Tuhan didalam penelitiannya.
    Pada masa itu banyak ilmuwan mati hanya karena menentang hukum” Ketuhanan yang dipercaya manusia.
    Namun, siapa yang dapat menjamin Benarkan Sir Isaac Newton meyakini Tuhan atau sekedar melindungi hidupnya dari kecaman gereja yang begitu keras pada zamannya?
    Pemikiran Isaac Newton seakan lebih ditekankan pada pengamanan dirinya. Dapatkah dikatakan ia mengetahui keilahian Tuhan atau keberadaannya dengan segala kemampuannya selain hanya kepercayaan semata..
    Hawking mencoba memberikan sesuatu pandangan yang lebih bebas dan realistis mengenai ilmu pengetahuan yang memberikan bukti dan bukan janji.

  2. hairiel on said:

    kArena kesombongan
    manusia lupa akan adanya tuhan….
    telah bnyk bukti ilmiah bahwa tuhan itu ada
    kenapa manusia msh berpaling

  3. ajieb bner dah .. tuhan lebih dekat daripada urat lehermu apakah ngkau tidak mlihatnya..mungkin kta2 ini cocok buat para atheis..sdah nyata dan sdah bnyk bukti knp mreka msih sja mmbntah..

  4. yups bner bgt dach mank tu manusia yg cllu sox pnter!!!
    cllu di perbudak logika n mansia tu gk sadar bhwa kpandaian yg di miliki tu brasal dr tuhan moga jha manusi akn brhnti mncari kebenaran yang blim pzti bwt mreka

  5. nobody on said:

    ga maksut gimana2… membahas tuhan saya pribadi, ga jauh2 dari bangun tidur…maksutnya siapa yang tau besok seperti apa jalan hidup kita..? mama lauren ato paranormal yg bpikir jauh kedepan diluar ilmiah aja ga tau kapan dia meninggal. manusia sering tidak menyadari keterbatasannya sendiri.

  6. pencari kebenaran on said:

    Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic

    1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
    Dan terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka terlalu banyak kebetulan yang terjadi d ialam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari desainer yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama rasionalitas berarti murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah akalnya bisa menangkap konsep konsep dari manapun datangnya apakah itu dari realitas yang nampak mata maupun realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat ke dua dimensi realitas yang berbeda,beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’.

  7. ujang bandung on said:

    Argument dasar untuk menghancurkan atheisme :

    Kita berada dalam Tuhan bagaimana kita bisa melihat wujud Tuhan (?) analoginya (bayangkan) sama dengan ikan yang berada disamudera yang luas bila ikan itu ingin melihat wujud samudera raya itu ia harus keluar dari lautan dan melihat samudera itu dari jarak jauh,atau bila kita ingin melihat wujud bentuk bangun gedung yang kita berada didalamnya maka kita harus keluar dari gedung itu dan melihatnya dari jarak jauh.
    Tuhan (karena Ia adalah Tuhan) adalah maha tak terbatas Ia meliputi keseluruhan sehingga keseluruhan itu berada didalamNya termasuk kita,jadi bagaimana kita bisa keluar dari Tuhan untuk bisa melihat wujud Tuhan (?)adakah ruang yang kosong dari Tuhan yang mana dari ruang itu kita bisa melihat wujud Tuhan (?)
    Atheis bodoh dengan mengatakan bahwa karena Tuhan tidak bisa terlihat (mata telanjang )maka Tuhan itu tidak ada (mereka tidak berfikir dan tidak melihat persoalan ini dari banyak sisi-dimensi) cara berfikirnya terlalu sak-lek,kaku tidak fleksibel.(tapi anehnya dihadapan para agamawan mereka suka mengklaim sebagai ‘kaum rasionalist’)
    Coba jungkirkan logika mereka : mengapa sesuatu itu bisa ditangkap mata (?) karena wujud atau bentuknya terbatas (!) kita bisa melihat botol,rumah,gunung,bahkan planet bumi,karena semua itu adalah wujud wujud yang terbatas.kalau yang maha tak terbatas yang mengisi keseluruhan ruang bagaimana (yang berada didalamNya) bisa menangkap wujudnya (?) atau adakah orang yang bisa menangkap atau menentukan batas batas Tuhan sehingga wujudNya bisa digambarkan atau diidentifikasi (?)

  8. pencari kebenaran on said:

    Sains tak bisa diklaim milik satu golongan sebab sains ditemukan oleh manusia dari berbagai golongan dan berbagai bangsa,tapi orang atheist sering membuat klaim paksa atas sains seolah sains ‘milik’ mereka sehingga yang menafsirkan sains diluar cara pandang mereka akan dianggap salah.sains tak bisa ditarik paksa untuk masuk ke ideologi atheistik dan tak ada hubungan langsung antara sains dan atheisme sebab definisi pengertian ‘sains’ adalah ilmu dunia materi yang bisa digunakan oleh manusia dari berbagai kalangan untuk berbagai keperluan hidupnya,termasuk para agamawan yang menafsirkannya sesuai dengan ilmu yang mereka miliki.
    Musuh agama sebenarnya bukan sains sebab ‘sains’ (pengertiannya kini) adalah murni ilmu dunia materi,musuh agama adalahideologi atau pandangan atheistik yang ingin menyeret sains agar selalu nampak berbenturan dengan agama melalui ‘teori teori ilmiah’yang berdasar pada fakta yang ditafsirkan sefihak (bukan fakta langsung) spt teori Darwin (tak pernah ada bukti empirik yang langsung membenarkan teori Darwin/ jadi teori ini hanya teori bukan fakta). mereka (saintis atheistik-materialistik) secara paksa selalu mengedepankan teori Darwin untuk mewakili ‘sains’ ketika berhadapan dengan agama padahal sains tak bisa diwakili oleh sesuatu yang hanya teori yang tidak berasas kepada fakta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: